AYO WAKAF UANG
previous arrow
next arrow
PlayPause
Slider

WAKIF

Melihat pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 41 tahun 2004, menetapkan bahwa wakaf merupakan perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Pembahasan tentang wakaf ini akan memunculkan beberapa instrumen atau pihak-pihak yang berperan di dalamnya. Sebagaimana yang dituliskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 41 tahun 2004, ada 6 hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, wakif, adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya. Dalam bagian keempat pasal 7 disebutkan bahwa wakif bisa berupa perseorangan, organisasi, maupun badan hukum.

Kedua, nadzir, adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. Dalam bagian kelima pasal 9 disebutkan bahwa nadzir bisa berupa perseorangan, organisasi, ataupun badan hukum.

Ketiga, harta benda wakaf, adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif. Dalam bagian keenam pasal 16 disebutkan bahwa harta benda wakaf terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak.

Keempat, ikrar wakaf, adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada nadzir untuk mewakafkan harta benda miliknya. Dalam bagian ketujuh pasal 17 ayat 1 menetapkan bahwa ikrar wakaf dilaksanakan oleh wakif kepada nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi.

Kelima, peruntukan harta benda wakaf, dalam bagian kedelapan pasal 22 harta benda wakaf hanya diperuntukkan bagi: sarana dan kegiatan ibadah; sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan; bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, beasiswa; kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan/atau kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.

Keenam, jangka waktu wakaf, sebagaimana yang tertera dalam definisi wakaf, wakaf bisa dipergunakan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah ( Kemenag RI )